Content

Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Lakipadada, Berjuang Mencari Keabadian

12 November 2009 2 comentar

cerita tentang Lakipadada ini merupakan salah satu legenda Toraja dari sekian banyaknya legenda2 lainnya yang sungguh menarik.
yah begitulah indahnya budaya Indonesia yang memiliki Toraja sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman yang dimilikinya.

Lakipadada, adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate (ketidakmatian/keabadian/kekekalan/dsb) supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (cerita ini mirip dengan cerita Nabi Sulaiman). Didalam legendanya, Lakipadada diceritakan kehilangan orang2 yang sangat dia cintai, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya  satu demi satu meninggal dunia. Hal itu sungguh sangat menyedihkan bagi Lakipadada, hingga dia pun memutuskan untuk mengejar impian yang bagi kita sangatlah tidak mungkin. Lakipadadapun menjadi paranoid, dia berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya. Hingga akhirnya pergilah dia mengembara dengan tedong bonga (kerbau belang) nya untuk mencari mustika tang mate (mustika tidak mati) yang bisa menjadikan hidupnya kekal, dia pun mengarungi teluk bone dengan buaya sakti yang ditukarkan dengan tedong bonga miliknya sebagai imbalan jasa untuk menuju Pulau Maniang, tempat yang dianggapnya dihuni oleh seorang kakek tua sakti berambut dan jenggot putih yang diceritakan memiliki mustika itu.
Lakipadada pun bertemu dengan Kakek tersebut dan mengungkapkan keinginannya untuk tidak mati. kakek itu menyetujui permintahan Lakipadada tapi dengan syarat yang sangat berat.Lakipadada harus berpuasa makan dan minum dan tidak boleh tertidur selama tujuh hari tujuh malam di dalam gua yang telah di perintahkan oleh si kakek. beberapa hari berlalu, lakipadada sanggup untuk melalui tantangan tersebut, namun akhirnya Lakipadada tertidur.
Kakek itu datang menghampiri Lakipadada dan mematahkan pedang yang dimiliki Lakipadada. setelah tujuh hari berlalalu, si Kekek itu kembali menghampirinya dan bertanya kepada Lakipadada, "Lakipadada, apakah kamu telah melakukan apa yang telah kuperintahkan ?".
"yah, aku telah berpuasa dan tidak tidur selama tujuh hari tujuh malam lamanya !" jawab Lakipadada.
Kakek itu kembali bertanya hal yang sama, dan Lakipadada pun menjawab hal yang senada dengan jawaban pertamanya.
Kakek itu pun menyuruh Lakipadada untuk mencabut pedangnya dan melihat apa yang terjadi. Lakipadada terkejut saat melihat pedang yang dimilikinya telah patah.
kejadian itu menandakan bahwa saat melaksanakan perintah dari si kakek, Lakipadada pernah tertidur. Lakipadada pun dianggap gagal untul mendapatkan mustika keabadian itu.
Tapi dari sini Lakipadada mendapat hikmah yang menyadarkannya bahwa menghindari kematian sama halnya dengan menantang kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan.
Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda yang
membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.
Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di
Luwu.

Sebagai Akulturasi damai, Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi ini lah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga cerita legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika tang mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita/legenda.

Cerita di atas dikutip dari buku tipis : Cerita Rakyat Sulsel karangan Ber T Lembang, penerbit Yayasan Pustaka Nusatama.
semoga cerita di atas dapat memberi Hikma bagi kita semua, bahwa kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Suku Toraja

29 September 2009 2 comentar
info wisata soLata, 
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).


Sedikit Mitos Tentang Toraja...
Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa - dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Aluk Dalam Toraja....

Aluk

Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Aluk Sanda Saratu

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Aluk Sanda Pitunna

Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan".


Tongkonan Toraja

28 September 2009 4 comentar

Info Wisata soLata, Postingan di bawah ini merupakan versi bahasa indonesia dari postingan THE TONGKONAN OF TORAJA... postingan Copas,, slx uda malas nulis... hehehe

sumber dari http://www.batusura.de/tongkonan.htm  kemudian ditranslate menggunakan google terjemahan... 

selamat membaca......

click here for english version

Toraja adalah nama asal Bugis yang diberikan kepada bangsa-bangsa yang berbeda wilayah pegunungan bagian utara semenanjung selatan, yang tetap terisolasi sampai awal milenium masa lalu. Agama asli mereka adalah megalitik dan animistik, dan ditandai oleh hewan kurban, upacara pemakaman mewah dan besar pesta komunal. Toraja hanya mulai kehilangan kepercayaan pada agama mereka setelah 1909, ketika misionaris Protestan tiba di bangun dari penjajah Belanda. Saat ini sekitar 70% dari Toraja adalah Kristen, dan 10% adalah Muslim; sisanya terus dalam beberapa ukuran agama asli mereka. Apa pun keyakinan agama mereka, itu adalah rumah nenek moyang mereka, mereka 'rumah asal', Toraja banua besar dengan atap dan secara dramatis Saddleback yg disisir ke atas bubungan atap berakhir, yang merupakan fokus budaya untuk setiap Toraja. Rumah asal ini juga dikenal sebagai tongkonan, nama yang diambil dari kata Toraja untuk 'duduk'; secara harfiah berarti tempat di mana anggota keluarga bertemu - untuk membahas masalah-masalah penting, untuk ambil bagian dalam upacara-upacara dan untuk membuat pengaturan bagi perbaikan rumah.

      Tongkonan dibangun di atas tumpukan kayu. Mereka memiliki atap yang Gables Saddleback menyapu ke arah yang lebih berlebihan nada daripada yang dari Batak Toba. Secara tradisional, atap dibangun dengan lapisan bambu, dan struktur kayu rumah berkumpul di lidah-dan-groove mode tanpa paku. Nowadays, of course, zinc roofs and nails are used increasingly.

         Pembangunan rumah tradisional memakan waktu dan kompleks, dan membutuhkan tenaga kerja trampil pengrajin. Pertama-tama, berpengalaman kayu yang dikumpulkan, maka gudang perancah bambu dengan atap sirap bambu didirikan. Di sini, komponen rumah yang prefabrikasi, meskipun perakitan akhir akan dilakukan di situs sebenarnya. Hampir selalu sekarang, tongkonan yang dibangkitkan pada tumpukan vertikal bukan di substruktur log-tipe kabin, sehingga semua tumpukan kayu yang dibentuk dan dipotong morrises mereka untuk mengambil dasi balok horizontal. Tumpukan adalah berkumai di bagian atas untuk mengakomodasi longitudinal dan transversal balok dari struktur atas. The substucture ini kemudian berkumpul di akhir situs. Berikutnya, balok melintang dipasang ke dalam tumpukan, lalu berkumai dan balok longitudinal terpasang mereka, dan berlekuk uprights yang akan membentuk frame untuk dinding samping dipatok pada tempatnya. Tipis panel samping dipotong ke dimensi yang diputuskan oleh pemahat kayu yang akan menghias mereka, dan memasukkannya dalam, uprights Kedua terluar dari masing-masing dinding melintang melewati bagian atas balok dan dinding horisontal, yang bercabang di ujung atas, membawa balok horisontal paralel yang mendukung kasau. Sempit pasca kayu keras, juga bercabang di bagian atas dan set ke pusat lantai longitudinal balok, masing-masing melintang berlari menaiki dinding, adalah berlabuh ke dinding atas berkas dan membawa purlin punggungan. Kasau yang diletakkan di atas punggung bukit purlin, yang diperpanjang istirahat berakhir pada segitiga menjorok Gables. Sebuah punggungan atas tiang ini kemudian diletakkan di salib dibentuk oleh langit-langit, dan punggungan punggungan purlin tiang dan diikat bersama-sama dengan rotan.

         Tongkonan memperoleh atap semakin melengkung begitu populer dengan Toraja, ujung-ujung atas tiang punggungan harus ditempatkan melalui pusat-pusat vertikal pendek tergantung SPARS, yang mendukung bagian atas pertama dari balok-balok miring upwardly di depan dan belakang rumah , yang pada gilirannya slot melalui pusat vertikal lebih pendek tergantung SPARS yang membawa upwardly kedua siku balok. Bagian punggung bukit di luar proyeksi tiang purlin punggungan didukung depan dan belakang oleh tiang berdiri bebas. Ikatan melintang melewati baik tergantung SPARS dan posting berdiri bebas untuk mendukung proyeksi kasau dari atap. Sebelum atap dipasang, batu-batu yang ditempatkan di bawah tumpukan. Atapnya terbuat dari bambu paranada diikat dengan rotan dan berkumpul melintang di lapisan atas atap yang di bawah tiang bambu, yang terikat memanjang ke rafters. Lantai adalah papan kayu diletakkan di atas balok kayu tipis.

         Masyarakat TongkonanToraja sangat hierarkis, terdiri dari kaum bangsawan, rakyat biasa dan kelas yang lebih rendah yang dulunya budak. Desa hanya diizinkan untuk dekorasi rumah mereka dengan simbol dan motif yang sesuai dengan stasiun sosial mereka. The Gables dan dinding kayu panel incized dengan geometris, melonjaknya desain dan motif seperti kepala kerbau dan ayam dicat dengan warna merah, putih, kuning dan hitam, warna yang mewakili berbagai festival dari Aluk To Dolo ( "Jalan Leluhur '), Toraja asli agama. Hitam melambangkan kematian dan kegelapan; kuning, berkat Tuhan dan kekuasaan; putih, warna daging dan tulang, berarti kemurnian; dan merah, warna darah, melambangkan kehidupan manusia. Pigmen yang digunakan terbuat dari bahan tersedia, jelaga untuk hitam, kapur berwarna putih dan bumi untuk merah dan kuning; tuak (tuak) digunakan untuk memperkuat warna. Seniman yang menghiasi rumah secara tradisional dibayar dengan kerbau. Mayoritas ukiran pada rumah-rumah dan lumbung Toraja menandakan kemakmuran dan kesuburan, dan motif yang digunakan adalah yang penting bagi keluarga pemilik. Edaran motif mewakili matahari, simbol kekuasaan, emas keris (pisau) melambangkan kekayaan dan kepala kerbau berdiri untuk kemakmuran dan ritual pengorbanan. Banyak dari desain yang berhubungan dengan air, yang dengan sendirinya melambangkan kehidupan, kesuburan dan produktif sawah. Kecebong dan air-rumput liar, yang keduanya berkembang biak dengan cepat, mewakili harapan bagi banyak anak-anak.

         Banyak motif yang menghiasi rumah-rumah dan lumbung dari Toraja adalah identik dengan yang ditemukan pada drum ketel perunggu dari Dong-Anak. Lain, seperti motif salib persegi, diperkirakan memiliki asal-usul Hindu-Buddha atau telah disalin dari perdagangan India kain. Salib adalah digunakan oleh orang Kristen Toraja sebagai desain dekoratif simbol dari iman mereka. Di dinding depan dari rumah yang paling penting asal-mount yang realistis kayu berukir kepala kerbau, dihiasi dengan tanduk yang sebenarnya. Lambang ini hanya dapat ditambahkan ke rumah setelah salah satu upacara pemakaman yang paling penting telah dirayakan.

         TongkonanTo Toraja, maka tongkonan yang lebih dari sekedar sebuah struktur. Simbol identitas keluarga dan tradisi, mewakili semua keturunan nenek moyang pendiri, adalah fokus dari ritual kehidupan. Membentuk perhubungan yang paling penting dalam jaringan kekerabatan. Toraja's mungkin mengalami kesulitan menentukan hubungan mereka dengan tepat jenis jauh, tetapi selalu dapat nama natal rumah-rumah orang tua, kakek-nenek dan kadang-kadang jauh leluhur, karena mereka menganggap dirinya sebagai terkait melalui rumah-rumah ini. Keturunan antara Toraja adalah dilacak bilateral - yaitu, melalui baik laki-laki dan perempuan garis. Karena itu milik orang-orang lebih dari satu rumah. Keanggotaan rumah-rumah ini hanya memerlukan penebus partisipasi aktif pada saat-saat upacara, pembagian warisan atau ketika rumah tersebut dibangun.

         Meskipun tongkonan yang telah menjadi diidentifikasi oleh pihak luar sebagai wakil semua bangunan Toraja, hanya para bangsawan dan keturunan mereka yang mampu baik membangun rumah sendiri dan perayaan ritual besar yang terkait dengan mereka. Noble Toraja can claim affiliation to a particular tongkonan as descendants of the founding ancestor, through the male or female line. Asosiasi ini secara berkala dikonfirmasi melalui kontribusi ke perayaan upacara tongkonan yang diberikan oleh rumah tangga. Jelata terbiasa tinggal di lebih kecil, rumah-rumah sederhana dan bertindak sebagai pembantu di pesta komunal ini. Jelata jejak keturunan mereka melalui rumah-rumah mereka sendiri asal. Ini, meskipun dari desain dan dekorasi yang sederhana, mungkin masih dikenal sebagai tongkonan.

         Seperti di banyak tempat di Indonesia modern, rumah tradisional, dengan sempit, gelap, berasap interior, telah kehilangan daya tarik bagi banyak orang Toraja (meskipun masih perintah ritual besar prestise). Banyak memilih untuk tanah dibangun, beton, lantai satu rumah di Pan-Indonesia kontemporer gaya, dan beberapa telah mengadopsi kayu, tumpukan-dibangun tempat tinggal. Orang lain yang lebih cenderung ke arah tradisi dapat menambahkan ekstra Saddleback lantai dan atap; ini menyediakan lebih banyak ruang hidup dan ruang untuk perabotan, sementara mempertahankan sesuatu yang prestise yang tongkonan affords pemiliknya. Toraja bangunan kontemporer demikian hasil pembangunan arsitektonis yang telah berkurang nilainya sebagai tempat tinggal. Dengan demikian, mereka telah dipekerjakan teknologi baru untuk lebih menekankan filosofi tradisional Toraja. Rencana dasar tetap hampir konstan di seluruh perubahan, dan pentingnya gagasan yang mendasarinya budaya, agama, dan masyarakat telah menuntun arah tongkonan's evolvement. Begitu dekat memiliki garis-garis perubahan tinggal konsep dasar ini, bahwa proses telah diberi label sebagai "involusi". Meskipun modernitas tongkonan yang baru, telah berhasil mempertahankan kekayaan terjalin simbolisme dan terus bergema dengan penuh makna budaya.

click here for english version

THE Tongkonan OF TORAJA

1 comentar


Toraja is a name of Bugis origin given to the different peoples of the mountainous regions of the northern part of the south peninsula, which have remained isolated until the beginning of the past millenium. Their native religion is megalithic and animistic, and is characterized by animal sacrifices, ostentatious funeral rites and huge communal feasts. The Toraja only began to lose faith in their religion after 1909, when Protestant missionaries arrived in the wake of the Dutch colonizers. Nowadays roughly 70% of the Toraja are Christian, and 10% are Muslim; the rest hold in some measure to their original religion. Whatever their religious belief, it is their ancestral home, their 'house of origin', the great banua Toraja with its saddleback roof and dramatically upswept roof ridge ends, that is the cultural focus for every Toraja. This house of origin is also known as a tongkonan, a name derived from the Toraja word for 'to sit'; it literally means the place where family members meet - to discuss important affairs, to take part in ceremonies and to make arrangements for the refurbishment of the house.

TongkonanTongkonan are built on wooden piles. They have saddleback roofs whose gables sweep up at an even more exaggerated pitch than those of the Toba Batak. Traditionally, the roof is constructed with layered bamboo, and the wooden structure of the house assembled in tongue-and-groove fashion without nails. Nowadays, of course, zinc roofs and nails are used increasingly.

The construction of a traditional house is time-consuming and complex, and requires the employment of skilled craftsmen. First of all, seasoned timber is collected, then a shed of bamboo scaffolding with a bamboo shingle roof is erected. Here, components of the house are prefabricated, though the final assembly will take place at the actual site. Almost invariably now, tongkonan are raised on vertical piles rather than on a substructure of the log-cabin type, so all the wooden piles are shaped and morrises cut in them to take the horizontal tie beams. The piles are notched at the top to accommodate the longitudinal and transverse beams of the upper structure. The substucture is then assembled at the final site. Next, the transverse beams are fitted into the piles, then notched and the longitudinal beams set into them, and the grooved uprights that will form the frame for the side walls are pegged in place. Thin side panels are cut to the dimensions decided on by the woodcarver who is going to decorate them, and slotted in, The two outermost uprights of each transverse wall pass through the upper horizontal wall beam and, being forked at the upper end, carry the parallel horizontal beams that support the rafters. A narrow hardwood post, also forked at the top and set into the central longitudinal floor beam, runs up each transverse wall, is anchored to the upper wall beam and carries the ridge purlin. The rafters are laid over the ridge purlin, whose extended ends rest on the triangular overhanging gables. An upper ridge pole is then laid in the crosses formed by the rafters, and the ridge pole and ridge purlin lashed together with rattan.

TongkonanTo obtain the increasingly curved roof so popular with the Toraja, the ends of the upper ridge pole must be slotted through the centres of short vertical hanging spars, whose upper halves support the first of the upwardly angled beams at the front and rear of the house, which in turn slots through the centre of further short vertical hanging spars that carry the second upwardly angled beam. The sections of the ridge pole projecting beyond the ridge purlin are supported front and back by a freestanding pole. Transverse ties pass through both the hanging spars and the freestanding posts to support the rafters of the projecting roof. Before the roof is fitted, stones are placed under the piles. The roof is made of bamboo staves bound together with rattan and assembled transversely in layers over an under-roof of bamboo poles, which are tied longitudinally to the rafters. Flooring is of wooden boards laid over thin hardwood joists.

TongkonanToraja society is extremely hierarchical, comprising nobility, commoners and a lower class who were formerly slaves. Villagers are only permitted to decor their house with the symbols and motifs appropriate to their social station. The gables and the wooden wall panels are incized with geometric, spiralling designs and motifs such as buffalo heads and cockerels painted in red, white, yellow and black, the colours that represent the various festivals of Aluk To Dolo ('the Way of the Ancestors'), the indigenous Toraja religion. Black symbolizes death and darkness; yellow, God's blessing and power; white, the colour of flesh and bone, means purity; and red, the colour of blood, symbolizes human life. The pigments used were of readily available materials, soot for black, lime for white and coloured earth for red and yellow; tuak (palm wine) was used to strengthen the colours. The artists who decorated the house were traditionally paid with buffalo. The majority of the carvings on Toraja houses and granaries signify prosperity and fertility, and the motifs used are those important to the owner's family. Circular motifs represent the sun, the symbol of power, a golden keris (knife) symbolizes wealth and buffalo heads stand for prosperity and ritual sacrifice. Many of the designs are associated with water, which in itself symbolizes life, fertility and prolific rice fields. Tadpoles and water-weeds, both of which breed rapidly, represent hopes for many children.

Many of the motifs that adorn the houses and granaries of the Toraja are identical to those found on the bronze kettle drums of the Dong-Son. Others, such as the square cross motif, are thought to have Hindu-Buddhist origins or to have been copied from Indian trade cloths. The cross is used by the Christian Toraja as a decorative design emblematic of their faith. On the front wall of the most important houses of origin is mounted a realistically carved wooden buffalo head, adorned with actual horns. This emblem may only be added to the house after one of the most important funeral rites has been celebrated.

TongkonanTo the Toraja, the tongkonan is more than just a structure. The symbol of family identity and tradition, representing all the descendants of a founding ancestor, it is the focus of ritual life. It forms the most important nexus within the web of kinship. Toraja's may have difficulty defining their exact relationship to distant kind, but can always name the natal houses of parents, grandparents and sometimes distant ancestors, for they consider themselves to be related through these houses. Descent amongst the Toraja is traced bilaterally - that is, through both the male and female line. People therefore belong to more than one house. Membership of these houses only requires the kinsman's active participation at times of ceremony, the division of an inheritance or when a house is rebuilt.

Although the tongkonan has become identified by outsiders as being representative of all Toraja buildings, it is only the nobility and their descendants who can afford both the building of the houses themselves and the enormous ritual feasts associated with them. Noble Toraja can claim affiliation to a particular tongkonan as descendants of the founding ancestor, through the male or female line. This association is periodically confirmed through contributions to the ceremonial feasts given by the tongkonan household. Commoners customarily lived in smaller, simpler houses and acted as helpers at these communal feasts. Commoners trace their descent through their own houses of origin. These, although of simpler design and decoration, may still be known as tongkonan.

As in so many places in modern Indonesia, the traditional house, with its cramped, dark, smoky interior, has lost its attraction for many Toraja (although it still commands great ritual prestige). Many have opted for a ground-built, concrete, single-storey house in the contemporary Pan-Indonesian style, and some have adopted a wooden, pile-built dwelling. Others who are more inclined towards tradition may add an extra storey and a saddleback roof; this provides more living space and room for furniture whilst retaining something of the prestige the tongkonan affords its owner. Contemporary Toraja buildings are thus the result of architectonic development which has diminished their value as dwellings. In so doing, they have employed new technology to further emphasize the traditional philosophy of the Toraja. The basic plan has remained virtually constant throughout the changes, and the importance of its underlying notions of culture, religion, and society has guided the direction of the tongkonan's evolvement. So close have the lines of change stayed to these fundamental concepts, that the process has been labeled an "involution". Despite the modernity of the new tongkonan, it has succeeded in maintaining its richness of intertwined symbolism and continues to resonate with deep cultural meaning.

source : http://www.batusura.de/tongkonan.htm