Content

Tampilkan postingan dengan label Hiburan soLata news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan soLata news. Tampilkan semua postingan

Lakipadada, Berjuang Mencari Keabadian

12 November 2009 2 comentar

cerita tentang Lakipadada ini merupakan salah satu legenda Toraja dari sekian banyaknya legenda2 lainnya yang sungguh menarik.
yah begitulah indahnya budaya Indonesia yang memiliki Toraja sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman yang dimilikinya.

Lakipadada, adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate (ketidakmatian/keabadian/kekekalan/dsb) supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (cerita ini mirip dengan cerita Nabi Sulaiman). Didalam legendanya, Lakipadada diceritakan kehilangan orang2 yang sangat dia cintai, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya  satu demi satu meninggal dunia. Hal itu sungguh sangat menyedihkan bagi Lakipadada, hingga dia pun memutuskan untuk mengejar impian yang bagi kita sangatlah tidak mungkin. Lakipadadapun menjadi paranoid, dia berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya. Hingga akhirnya pergilah dia mengembara dengan tedong bonga (kerbau belang) nya untuk mencari mustika tang mate (mustika tidak mati) yang bisa menjadikan hidupnya kekal, dia pun mengarungi teluk bone dengan buaya sakti yang ditukarkan dengan tedong bonga miliknya sebagai imbalan jasa untuk menuju Pulau Maniang, tempat yang dianggapnya dihuni oleh seorang kakek tua sakti berambut dan jenggot putih yang diceritakan memiliki mustika itu.
Lakipadada pun bertemu dengan Kakek tersebut dan mengungkapkan keinginannya untuk tidak mati. kakek itu menyetujui permintahan Lakipadada tapi dengan syarat yang sangat berat.Lakipadada harus berpuasa makan dan minum dan tidak boleh tertidur selama tujuh hari tujuh malam di dalam gua yang telah di perintahkan oleh si kakek. beberapa hari berlalu, lakipadada sanggup untuk melalui tantangan tersebut, namun akhirnya Lakipadada tertidur.
Kakek itu datang menghampiri Lakipadada dan mematahkan pedang yang dimiliki Lakipadada. setelah tujuh hari berlalalu, si Kekek itu kembali menghampirinya dan bertanya kepada Lakipadada, "Lakipadada, apakah kamu telah melakukan apa yang telah kuperintahkan ?".
"yah, aku telah berpuasa dan tidak tidur selama tujuh hari tujuh malam lamanya !" jawab Lakipadada.
Kakek itu kembali bertanya hal yang sama, dan Lakipadada pun menjawab hal yang senada dengan jawaban pertamanya.
Kakek itu pun menyuruh Lakipadada untuk mencabut pedangnya dan melihat apa yang terjadi. Lakipadada terkejut saat melihat pedang yang dimilikinya telah patah.
kejadian itu menandakan bahwa saat melaksanakan perintah dari si kakek, Lakipadada pernah tertidur. Lakipadada pun dianggap gagal untul mendapatkan mustika keabadian itu.
Tapi dari sini Lakipadada mendapat hikmah yang menyadarkannya bahwa menghindari kematian sama halnya dengan menantang kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan.
Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda yang
membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.
Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di
Luwu.

Sebagai Akulturasi damai, Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi ini lah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga cerita legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika tang mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita/legenda.

Cerita di atas dikutip dari buku tipis : Cerita Rakyat Sulsel karangan Ber T Lembang, penerbit Yayasan Pustaka Nusatama.
semoga cerita di atas dapat memberi Hikma bagi kita semua, bahwa kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Suku Toraja

29 September 2009 2 comentar
info wisata soLata, 
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).


Sedikit Mitos Tentang Toraja...
Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa - dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Aluk Dalam Toraja....

Aluk

Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Aluk Sanda Saratu

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Aluk Sanda Pitunna

Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan".


Rock and Roll Hall of Fame Bikin Acara untuk Jackson

7 Juli 2009 0 comentar
Beberapa jam sesudah upacara penghormatan terakhir bagi (mendiang) Michael Jackson di Staples Center (Los Angeles, California, AS), Selasa (7/7) waktu setempat, pihak Rock and Roll Hall of Fame di Cleveland (Ohio, AS) juga akan memberi penghormatan bagi Jackson bersama para penggemar Jackson dengan menyalakan lilin.

Acara tersebut dijadwalkan akan diadakan pada Selasa (7/7) malam waktu setempat. Seorang pastor gereja lokal dan Terry Stewart, Presiden dan CEO Rock and Roll Hall of Fame, akan ambil bagian memberi doa dan ucapan penghormatan bagi Jackson. Para penggemar akan diundang untuk memberi kesaksian mereka mengenai Raja Pop itu dalam acara yang akan mengambil tempat plaza di luar balai dan museum tersebut.

Masih di hari yang sama, museum itu berencana meresmikan dinding khusus untuk menghormati Jackson, yang telah dua kali menerima penghargaan dari Rock and Roll Hall of Fame. Pada 1997, ia menerima penghargaan tersebut sebagai bagian dari grup Jackson 5 dan pada 2001 sebagai artis musik solo.

Koleksi museum itu, antara lain, beberapa kostum Jackson dan salah satu sarung tangan terkenalnya tersebut. (sumber: harian Kompas)