About Us

Introduce about your product, design, or anything else here. You can put max 300 character.

Nunc tortor augue hac duis, sit porta nec montes duis, mid enim rhoncus et vel sed purus. Purus, sed, et odio porta?Enim etiam non integer tempor? Turpis turpis? Adipiscing.

  • Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Content

Ternyata "Alien" Sudah di Bumi Membaur dengan Manusia

9 Desember 2009 0 comentar
SoLata News, Ilmuwan Bulgaria menyatakan, alien atau makhluk luar angkasa sudah ada di bumi di antara kita. Mereka bahkan mengklaim sudah membuat kontak dengan makhluk cerdas di luar bumi itu.

Alien sudah ada di antara kita, dan mengawasi kita sepanjang waktu,” kata ilmuwan Bulgaria, Lachezar Filipov, kepada media Bulgaria.

Mereka mengaku bekerja untuk memecahkan serangkaian simbol kompleks yang dikirimkan ke mereka. Kini mereka sedang mengerjakannya. Hal itu dikatakan oleh ilmuwan dari Space Research Institute milik Pemerintah Bulgaria.

Mereka mengklaim telah menjawab 30 pertanyaan yang telah dikirim alien. Lachezar Filipov, Wakil Direktur Space Research Institute dari Bulgarian Academy of Sciences, mengonfirmasi hasil riset itu.

Ia mengatakan, pusat riset telah menganalisis 150 lingkaran pada ladang (crop circles) dari seluruh dunia. Mereka yakin hal itu akan menjawab pertanyaan.

“Mereka tidak bermusuhan dengan kita. Mereka ingin membantu kita, tetapi kita belum berhasil menjalin kontak lansung dengan mereka.”

Mr Filipov bahkan mengatakan, Vatikan setuju bahwa alien itu ada.

Manusia tidak bisa menjalin kontak dengan alien melalui gelombang radio, tetapi melalui kekuatan pikiran.

“Ras manusia akan memiliki kontak langsung dengan alien 10-15 tahun mendatang,” katanya.

“Mereka kritis pada sikap amoral manusia yang mengganggu proses alami,” katanya.

Publikasi soal alien ini dilaksanakan di tengah debat mengenai kontroversi peran, kelayakan, dan reformasi Bulgarian Academy of Sciences.

Minggu lalu, persoalan ini memicu debat antara Menteri Keuangan Bulgaria Simeon Djankov dan Presiden Georgi Parvanov. (sumber : kompas.com)

"SebaGai sahabat yaNg seJati,, tiNggalkan
jeJak-jejak keseTianmu dengan BerKomentar
di bLog yG seDerhaNa iNi"

Indonesia, "The Lost Atlantis",,,, benua Atlantis Yang Hilang

13 November 2009 1 comentar

Mungkin cerita ini sudah lama terdengar di telinga sebagian orang,,, namuN..
Yeah,,, very2 amazing.... Indonesia, "The Lost Atlantis",,..
Tak ad salahnya jika aku menuliskannya kembali, agar kita semakin tw akan kehebatan yg dimiliki bangsa kita ini.


yah.. "Atlantis" sebuah benua yang mengilang secara misterius, pertama kali diungkap oleh Plato. Banyak yang beranggapan bahwa cerita ini merupakan imajinasi Plato sendiri, namun tak sedikit peneliti yang ingin mengungkap keberadaan benua yang hilang ini.
Banyak situs ilmiah yang tertarik dengan benua yang konon subur makmur ini. Sebagai contoh dapat dilihat disini, atau disini, atau juga disini.... Kebanyakan beranggapan bahwa benua Atlantis merupakan bagian dari wilayah Yunani, Roma... dll gitu deh. Namun rupanya seorang peneliti asal Perancis memiliki pemikiran yang  berbeda... Dia berpendapat bahwa Atlantis adalah Indonesia.... Wow!!!
***************************
Secara tegas dikatakan oleh Prof. Santos bahwa Indonesia adalah Atlantis yang hilang. Sebuah bangsa dan continent yang menurut Plato (2.500 tahun yang lalu) menjadi pusat peradaban dunia sebelum ditenggelamkan oleh banjir besar di masa Pleistocene 11.600 tahun silam. Dengan bukti-bukti yang dibawanya, dia memaparkan temuannya yang sudah diteliti selama lebih dari 30 tahun. Banyak ilmuwan melakukan penelitian mengenai Atlantis, pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, perairan Karibia, bahkan Kutub Utara, tetapi tidak pernah ditemukan karena menurut Santos mereka mencari ditempat yang salah.
***********************************************

Artikel ini dikutip dari Pikiran Rakyat edisi cetak... Wow amazing! the lost island "Atlantis" ternyata adalah Indonesia?!


Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.   


MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***  
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis

"Apa Tindakan Kita Selanjutnya...?????"
Menjaga atau Malah dengan sengaja Merusaknya

"SebaGai sahabat yaNg seJati,, tiNggalkan
jeJak-jejak keseTianmu dengan BerKomentar
di bLog yG seDerhaNa iNi"

Soekarno di Mata Dunia.....-part 1-

3 comentar
Ir. Soekarno1 (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Ia menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan tanggal turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

<<<<<<*******tunggu cerita selanjutnya di soLata

"SebaGai sahabat yaNg seJati,, tiNggalkan
jeJak-jejak keseTianmu dengan BerKomentar
di bLog yG seDerhaNa iNi"

Lakipadada, Berjuang Mencari Keabadian

12 November 2009 2 comentar

cerita tentang Lakipadada ini merupakan salah satu legenda Toraja dari sekian banyaknya legenda2 lainnya yang sungguh menarik.
yah begitulah indahnya budaya Indonesia yang memiliki Toraja sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman yang dimilikinya.

Lakipadada, adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate (ketidakmatian/keabadian/kekekalan/dsb) supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (cerita ini mirip dengan cerita Nabi Sulaiman). Didalam legendanya, Lakipadada diceritakan kehilangan orang2 yang sangat dia cintai, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya  satu demi satu meninggal dunia. Hal itu sungguh sangat menyedihkan bagi Lakipadada, hingga dia pun memutuskan untuk mengejar impian yang bagi kita sangatlah tidak mungkin. Lakipadadapun menjadi paranoid, dia berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya. Hingga akhirnya pergilah dia mengembara dengan tedong bonga (kerbau belang) nya untuk mencari mustika tang mate (mustika tidak mati) yang bisa menjadikan hidupnya kekal, dia pun mengarungi teluk bone dengan buaya sakti yang ditukarkan dengan tedong bonga miliknya sebagai imbalan jasa untuk menuju Pulau Maniang, tempat yang dianggapnya dihuni oleh seorang kakek tua sakti berambut dan jenggot putih yang diceritakan memiliki mustika itu.
Lakipadada pun bertemu dengan Kakek tersebut dan mengungkapkan keinginannya untuk tidak mati. kakek itu menyetujui permintahan Lakipadada tapi dengan syarat yang sangat berat.Lakipadada harus berpuasa makan dan minum dan tidak boleh tertidur selama tujuh hari tujuh malam di dalam gua yang telah di perintahkan oleh si kakek. beberapa hari berlalu, lakipadada sanggup untuk melalui tantangan tersebut, namun akhirnya Lakipadada tertidur.
Kakek itu datang menghampiri Lakipadada dan mematahkan pedang yang dimiliki Lakipadada. setelah tujuh hari berlalalu, si Kekek itu kembali menghampirinya dan bertanya kepada Lakipadada, "Lakipadada, apakah kamu telah melakukan apa yang telah kuperintahkan ?".
"yah, aku telah berpuasa dan tidak tidur selama tujuh hari tujuh malam lamanya !" jawab Lakipadada.
Kakek itu kembali bertanya hal yang sama, dan Lakipadada pun menjawab hal yang senada dengan jawaban pertamanya.
Kakek itu pun menyuruh Lakipadada untuk mencabut pedangnya dan melihat apa yang terjadi. Lakipadada terkejut saat melihat pedang yang dimilikinya telah patah.
kejadian itu menandakan bahwa saat melaksanakan perintah dari si kakek, Lakipadada pernah tertidur. Lakipadada pun dianggap gagal untul mendapatkan mustika keabadian itu.
Tapi dari sini Lakipadada mendapat hikmah yang menyadarkannya bahwa menghindari kematian sama halnya dengan menantang kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan.
Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda yang
membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.
Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di
Luwu.

Sebagai Akulturasi damai, Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi ini lah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga cerita legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika tang mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita/legenda.

Cerita di atas dikutip dari buku tipis : Cerita Rakyat Sulsel karangan Ber T Lembang, penerbit Yayasan Pustaka Nusatama.
semoga cerita di atas dapat memberi Hikma bagi kita semua, bahwa kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Cerita Mayat Berjalan di Toraja. benar atau tidak..???

11 November 2009 5 comentar

sobat soLata smuanya, ini cerita yang sangat menarik untuk kita baca. "Mayat Berjalan...??" emang bisa..???..
yah... ini cerita dari satu kota kecil yang sangat indah dan penuh mistis di Indonesia. kota ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan (sekitar 8 jam melalalui jalur darat dr Makassar).
cerita ini sudah sangat sering saya dengar, baik itu dari sahabat2 ku, paman, dan org2 tua yg ada di tempatku (Toraja). jujur aku sih blum pernah mlihatnya secara langsung. tapi cerita ini benar2 ada dan nyata.
untuk cerita yg di bawah ini, aku tinggal nulis ulang dari http://onezimus.wordpress.com.
langsung aja pd crita deh....

"Sebagai orang Toraja asli, penulis (sumber) sangat sering ditanya oleh teman2nya tentang uniknya kebudayaan Tana toraja khususnya tentang fenomena mayat berjalan. Dia (sumber) sendiri lahir dan tumbuh besar di Tana Toraja sehingga dia mengetahui tentang adat & kebudayaan di Tana Toraja walaupun tidak sepenuhnya menguasai secara keseluruhan tentang asal usul dan segala macam hal mengenai adat Toraja.
Cerita mayat berjalan sudah ada sejak dahulu kala. ratusan tahun yang lalu konon terjadi perang saudara di Tana toraja yakni orang Toraja Barat berperang melawan orang Toraja Timur. dalam peperangan tersebut orang Toraja Barat kalah telak karena sebagian besar dari mereka tewas, tetapi pada saat akan pulang ke kampung mereka seluruh mayat orang Toraja Barat berjalan, sedangkan orang Toraja Timur walaupun hanya sedikit yang tewas tetapi mereka menggotong mayat saudara mereka yang mati, karena kejadian tersebut maka peperangan tersebut dianggap seri. pada keturunan selanjutnya orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya.
Fenomena “Mayat berjalan” ini sendiri pernah disaksikan langsung oleh sipenulis. kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1992 (saat penulis baru kelas 3 SD). menurut dia, pada saat itu ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. seperti adat orang Toraja sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat penguburan (rambu solo’). saat itu setelah dimandikan mayat sang ibu diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan kedalam peti jenasah. pada malam ketiga seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti. saat itu penulis duduk di teras rumah, maklum anak-anak jadi suka mondar mandir. namun setelah rapat selesai (sekitar jam 10 malam), tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah dimana beberapa ibu-ibu berteriak -teriak. karena penasaran penulis melongok ke dalam rumah dan astaga "sang mayat berjalan keluar " dari dalam kamar, spontan saja penulis bersama teman2nya berteriak histeris dan berlari menuruni tangga. penulis berlari menuju ayahnya sambil  histeris ketakutan. setelah itu spenulispun langsung dibawa pulang kerumah oleh ayahnya dan  dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Keesokan harinya kejadian tersebut rupanya cukup heboh diperbincangkan oleh warga dan informasi yang dia dengar bahwa Pongbarrak yang melakukan hal tersebut. konon dia iseng aja untuk membuat lelucon pada malam itu.
Pada zaman sekarang sudah sangat jarang orang Toraja yang mempraktekkan hal tersebut walaupun masih banyak generasi yang memiliki ilmu seperti itu. akan tetapi mereka masih sering mempraktekkannya pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus. Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habispun, masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk kesana sini!...

Suku Toraja

29 September 2009 2 comentar
info wisata soLata, 
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).


Sedikit Mitos Tentang Toraja...
Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa - dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Aluk Dalam Toraja....

Aluk

Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Aluk Sanda Saratu

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Aluk Sanda Pitunna

Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan".


CINTA yang AGUNG

3 comentar

sahabat soLata,
sebelum membaca isi puisinya, sebaiknya kita membaca sedikit tentang penciptanya.....
Kahlil Gibran adalah seorang seniman, penyair, dan juga seorang penulis puisi cinta yang fonemenal merupakan seorang berkebangsaan Amerika yang lahir di Lebanon pada tahun 1883 dan meninggal pada 10 April 1931.


CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh


klik di sini untuk mengenal Kahlil Gibran

Tongkonan Toraja

28 September 2009 4 comentar

Info Wisata soLata, Postingan di bawah ini merupakan versi bahasa indonesia dari postingan THE TONGKONAN OF TORAJA... postingan Copas,, slx uda malas nulis... hehehe

sumber dari http://www.batusura.de/tongkonan.htm  kemudian ditranslate menggunakan google terjemahan... 

selamat membaca......

click here for english version

Toraja adalah nama asal Bugis yang diberikan kepada bangsa-bangsa yang berbeda wilayah pegunungan bagian utara semenanjung selatan, yang tetap terisolasi sampai awal milenium masa lalu. Agama asli mereka adalah megalitik dan animistik, dan ditandai oleh hewan kurban, upacara pemakaman mewah dan besar pesta komunal. Toraja hanya mulai kehilangan kepercayaan pada agama mereka setelah 1909, ketika misionaris Protestan tiba di bangun dari penjajah Belanda. Saat ini sekitar 70% dari Toraja adalah Kristen, dan 10% adalah Muslim; sisanya terus dalam beberapa ukuran agama asli mereka. Apa pun keyakinan agama mereka, itu adalah rumah nenek moyang mereka, mereka 'rumah asal', Toraja banua besar dengan atap dan secara dramatis Saddleback yg disisir ke atas bubungan atap berakhir, yang merupakan fokus budaya untuk setiap Toraja. Rumah asal ini juga dikenal sebagai tongkonan, nama yang diambil dari kata Toraja untuk 'duduk'; secara harfiah berarti tempat di mana anggota keluarga bertemu - untuk membahas masalah-masalah penting, untuk ambil bagian dalam upacara-upacara dan untuk membuat pengaturan bagi perbaikan rumah.

      Tongkonan dibangun di atas tumpukan kayu. Mereka memiliki atap yang Gables Saddleback menyapu ke arah yang lebih berlebihan nada daripada yang dari Batak Toba. Secara tradisional, atap dibangun dengan lapisan bambu, dan struktur kayu rumah berkumpul di lidah-dan-groove mode tanpa paku. Nowadays, of course, zinc roofs and nails are used increasingly.

         Pembangunan rumah tradisional memakan waktu dan kompleks, dan membutuhkan tenaga kerja trampil pengrajin. Pertama-tama, berpengalaman kayu yang dikumpulkan, maka gudang perancah bambu dengan atap sirap bambu didirikan. Di sini, komponen rumah yang prefabrikasi, meskipun perakitan akhir akan dilakukan di situs sebenarnya. Hampir selalu sekarang, tongkonan yang dibangkitkan pada tumpukan vertikal bukan di substruktur log-tipe kabin, sehingga semua tumpukan kayu yang dibentuk dan dipotong morrises mereka untuk mengambil dasi balok horizontal. Tumpukan adalah berkumai di bagian atas untuk mengakomodasi longitudinal dan transversal balok dari struktur atas. The substucture ini kemudian berkumpul di akhir situs. Berikutnya, balok melintang dipasang ke dalam tumpukan, lalu berkumai dan balok longitudinal terpasang mereka, dan berlekuk uprights yang akan membentuk frame untuk dinding samping dipatok pada tempatnya. Tipis panel samping dipotong ke dimensi yang diputuskan oleh pemahat kayu yang akan menghias mereka, dan memasukkannya dalam, uprights Kedua terluar dari masing-masing dinding melintang melewati bagian atas balok dan dinding horisontal, yang bercabang di ujung atas, membawa balok horisontal paralel yang mendukung kasau. Sempit pasca kayu keras, juga bercabang di bagian atas dan set ke pusat lantai longitudinal balok, masing-masing melintang berlari menaiki dinding, adalah berlabuh ke dinding atas berkas dan membawa purlin punggungan. Kasau yang diletakkan di atas punggung bukit purlin, yang diperpanjang istirahat berakhir pada segitiga menjorok Gables. Sebuah punggungan atas tiang ini kemudian diletakkan di salib dibentuk oleh langit-langit, dan punggungan punggungan purlin tiang dan diikat bersama-sama dengan rotan.

         Tongkonan memperoleh atap semakin melengkung begitu populer dengan Toraja, ujung-ujung atas tiang punggungan harus ditempatkan melalui pusat-pusat vertikal pendek tergantung SPARS, yang mendukung bagian atas pertama dari balok-balok miring upwardly di depan dan belakang rumah , yang pada gilirannya slot melalui pusat vertikal lebih pendek tergantung SPARS yang membawa upwardly kedua siku balok. Bagian punggung bukit di luar proyeksi tiang purlin punggungan didukung depan dan belakang oleh tiang berdiri bebas. Ikatan melintang melewati baik tergantung SPARS dan posting berdiri bebas untuk mendukung proyeksi kasau dari atap. Sebelum atap dipasang, batu-batu yang ditempatkan di bawah tumpukan. Atapnya terbuat dari bambu paranada diikat dengan rotan dan berkumpul melintang di lapisan atas atap yang di bawah tiang bambu, yang terikat memanjang ke rafters. Lantai adalah papan kayu diletakkan di atas balok kayu tipis.

         Masyarakat TongkonanToraja sangat hierarkis, terdiri dari kaum bangsawan, rakyat biasa dan kelas yang lebih rendah yang dulunya budak. Desa hanya diizinkan untuk dekorasi rumah mereka dengan simbol dan motif yang sesuai dengan stasiun sosial mereka. The Gables dan dinding kayu panel incized dengan geometris, melonjaknya desain dan motif seperti kepala kerbau dan ayam dicat dengan warna merah, putih, kuning dan hitam, warna yang mewakili berbagai festival dari Aluk To Dolo ( "Jalan Leluhur '), Toraja asli agama. Hitam melambangkan kematian dan kegelapan; kuning, berkat Tuhan dan kekuasaan; putih, warna daging dan tulang, berarti kemurnian; dan merah, warna darah, melambangkan kehidupan manusia. Pigmen yang digunakan terbuat dari bahan tersedia, jelaga untuk hitam, kapur berwarna putih dan bumi untuk merah dan kuning; tuak (tuak) digunakan untuk memperkuat warna. Seniman yang menghiasi rumah secara tradisional dibayar dengan kerbau. Mayoritas ukiran pada rumah-rumah dan lumbung Toraja menandakan kemakmuran dan kesuburan, dan motif yang digunakan adalah yang penting bagi keluarga pemilik. Edaran motif mewakili matahari, simbol kekuasaan, emas keris (pisau) melambangkan kekayaan dan kepala kerbau berdiri untuk kemakmuran dan ritual pengorbanan. Banyak dari desain yang berhubungan dengan air, yang dengan sendirinya melambangkan kehidupan, kesuburan dan produktif sawah. Kecebong dan air-rumput liar, yang keduanya berkembang biak dengan cepat, mewakili harapan bagi banyak anak-anak.

         Banyak motif yang menghiasi rumah-rumah dan lumbung dari Toraja adalah identik dengan yang ditemukan pada drum ketel perunggu dari Dong-Anak. Lain, seperti motif salib persegi, diperkirakan memiliki asal-usul Hindu-Buddha atau telah disalin dari perdagangan India kain. Salib adalah digunakan oleh orang Kristen Toraja sebagai desain dekoratif simbol dari iman mereka. Di dinding depan dari rumah yang paling penting asal-mount yang realistis kayu berukir kepala kerbau, dihiasi dengan tanduk yang sebenarnya. Lambang ini hanya dapat ditambahkan ke rumah setelah salah satu upacara pemakaman yang paling penting telah dirayakan.

         TongkonanTo Toraja, maka tongkonan yang lebih dari sekedar sebuah struktur. Simbol identitas keluarga dan tradisi, mewakili semua keturunan nenek moyang pendiri, adalah fokus dari ritual kehidupan. Membentuk perhubungan yang paling penting dalam jaringan kekerabatan. Toraja's mungkin mengalami kesulitan menentukan hubungan mereka dengan tepat jenis jauh, tetapi selalu dapat nama natal rumah-rumah orang tua, kakek-nenek dan kadang-kadang jauh leluhur, karena mereka menganggap dirinya sebagai terkait melalui rumah-rumah ini. Keturunan antara Toraja adalah dilacak bilateral - yaitu, melalui baik laki-laki dan perempuan garis. Karena itu milik orang-orang lebih dari satu rumah. Keanggotaan rumah-rumah ini hanya memerlukan penebus partisipasi aktif pada saat-saat upacara, pembagian warisan atau ketika rumah tersebut dibangun.

         Meskipun tongkonan yang telah menjadi diidentifikasi oleh pihak luar sebagai wakil semua bangunan Toraja, hanya para bangsawan dan keturunan mereka yang mampu baik membangun rumah sendiri dan perayaan ritual besar yang terkait dengan mereka. Noble Toraja can claim affiliation to a particular tongkonan as descendants of the founding ancestor, through the male or female line. Asosiasi ini secara berkala dikonfirmasi melalui kontribusi ke perayaan upacara tongkonan yang diberikan oleh rumah tangga. Jelata terbiasa tinggal di lebih kecil, rumah-rumah sederhana dan bertindak sebagai pembantu di pesta komunal ini. Jelata jejak keturunan mereka melalui rumah-rumah mereka sendiri asal. Ini, meskipun dari desain dan dekorasi yang sederhana, mungkin masih dikenal sebagai tongkonan.

         Seperti di banyak tempat di Indonesia modern, rumah tradisional, dengan sempit, gelap, berasap interior, telah kehilangan daya tarik bagi banyak orang Toraja (meskipun masih perintah ritual besar prestise). Banyak memilih untuk tanah dibangun, beton, lantai satu rumah di Pan-Indonesia kontemporer gaya, dan beberapa telah mengadopsi kayu, tumpukan-dibangun tempat tinggal. Orang lain yang lebih cenderung ke arah tradisi dapat menambahkan ekstra Saddleback lantai dan atap; ini menyediakan lebih banyak ruang hidup dan ruang untuk perabotan, sementara mempertahankan sesuatu yang prestise yang tongkonan affords pemiliknya. Toraja bangunan kontemporer demikian hasil pembangunan arsitektonis yang telah berkurang nilainya sebagai tempat tinggal. Dengan demikian, mereka telah dipekerjakan teknologi baru untuk lebih menekankan filosofi tradisional Toraja. Rencana dasar tetap hampir konstan di seluruh perubahan, dan pentingnya gagasan yang mendasarinya budaya, agama, dan masyarakat telah menuntun arah tongkonan's evolvement. Begitu dekat memiliki garis-garis perubahan tinggal konsep dasar ini, bahwa proses telah diberi label sebagai "involusi". Meskipun modernitas tongkonan yang baru, telah berhasil mempertahankan kekayaan terjalin simbolisme dan terus bergema dengan penuh makna budaya.

click here for english version